Libur semesteran ku telah tiba. Walaupun tidak seberapa banyak, namun aku berusaha menikmati setiap harinya. Pertama naik KRL sejak 2017 (karena di Malang tidak ada) and it was as fun as before!
Walaupun saya sudah lama menikmati KRL, saya baru mendapatkan pemikiran ini. Sewaktu saya menunggu kereta tiba, tiba-tiba kereta itu sudah tiba dan di hadapan saya adalah Kereta Khusus Wanita. Kereta yang didesain berbeda dengan kereta lainnya, dengan warna shock pink dan bunga-bunga serta tulisan Kereta Khusus Wanita dengan font yang elegan. Mengapa harus warna pink? Mengapa tulisannya harus model begitu?
Kemudian saya melangkahkan kaki kanan saya ke dalam kereta dan........ yang terjadi sama seperti sebelumnya. Ya, kaum perempuan bergegas lari dan memangsa "kursi-kursi hak" mereka dengan sangat agresif. Padahal saya lebih dulu di dalam kereta, namun saya kalah agresif sehingga tidak mendapatkan kursi.
Kemudian saya mendapat banyak pertanyaan karena kejadian tersebut,
Teruntuk semua yang pernah mengalami pasti tau rasanya. Berebutan tanpa ada rasa mengalah. Tidak mengenal umur, setiap pribadi punya antusias yang luar biasa di sini. Perperangan yang ironis, sehingga banyak yang mengatakan bahwa kereta 1 dan 10 merupakan kereta "angker" dan beberapa dari kaum perempuan justru tidak ingin menggunakan kereta tersebut. Lantas, apa latar belakang dan penyebabnya?
1. Bentuk kegagalan pemerintah dalam menciptakan transportasi umum yang aman dan sejahtera
Saya mewawancarai beberapa teman dan orang yang lebih tua tentang alasan mereka menggunakan kereta khusus wanita, respon terbanyak adalah ingin mendapat jaminan keamanan. Keamanan? Lantas, mengapa harus dengan cara pemisahan gender? Bukannya justru memperparah kesenjangan gender? You said you want equality.
Ternyata ini bukan gerakan pertama di Indonesia dalam "mengkhususkan" kaum perempuan di sarana umum. Langkah pertama ini diambil oleh mantan gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, di mana pada saat busway belum lama diluncurkan muncul beberapa kasus pelecehan seksual terhadap perempuan. Lalu berkembanglah sampai kepada kebijakan untuk KRL.
Dalam kacamata saya, solusi ini justru membuat masalah baru. Bentuk pemisahan pun sebenarnya tidak menyelesaikan masalah dalam keamanan. Bagaimana jika penjahat tersebut merupakan kaum perempuan sendiri? Apa langkah yang diambil adalah pemisahan lagi? Berdasarkan umur? Atau apa lagi ide pemerintah? Yang kedua adalah, jika kita menggunakan konsep pemikiran pemisahan kereta ini, bagaimana nasib perempuan yang diluar kereta khusus ini? Tidak aman? Terdiskriminasi? Akibat pemisahan ini, pada saat satu kaum dalam tempat yang sama, mereka cenderung tidak memperdulikan orang lain dan justru merasa diuntungkan dengan diperlakukan sebagai kaum lemah oleh sistem. Merasa bangga? You name it as "emansipasi"? Pikir lagi.
2. Budaya patriarki di Indonesia yang masih sangat melekat di masyarakat umum
Pihak PT. KAI mengemas kereta 1 dan 10 dengan cat berwarna pink dan membuat desain bunga-bunga dan font yang elegan, lalu menamainya dengan "Kereta Khusus Wanita" dengan tujuan keamanan dan masalah selesai. Namun PT. KAI juga lupa dalam memperhatikan kaum pria. Mereka juga rawan dalam objek kejahatan.
Pengupayaan kesetaraan gender yang merupakan isu sosial yang sangat besar di Indonesia masih rendah. Kesenjangan gender ini sebenarnya menjadi faktor utama dari pelecehan seksual perempuan lebih banyak jumlahnya dibandingkan pada kaum laki-laki. Dalam budaya patriarki yang masih melekat, kaum pria adalah teratas dan terkuat sedangkan kaum perempuan adalah lemah. Perempuan menjadi sangat dependen terhadap laki-laki akibat mengakarnya budaya tersebut. Akibat rasa dependen perempuan karena merasa dan termakan stereotype, perempuan merasa senang dispesialkan, diutamakan, dan didahulukan. Padahal, semuanya memiliki hak yang sama, perlindungan yang sama, karena laki-laki dan perempuan adalha makhluk ciptaan Tuhan. Jika budaya ini terus dipelihara, maka justru akar masalah yang ingin diselesaikan tidak akan bisa dihapus, kaum perempuan tidak akan merasa aman di tempat umum jika tempat tersebut tidak ada "pengkhususan" akibat sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.
Silahkan bila anda punya pendapat sendiri, I'd like to hear that!
Walaupun saya sudah lama menikmati KRL, saya baru mendapatkan pemikiran ini. Sewaktu saya menunggu kereta tiba, tiba-tiba kereta itu sudah tiba dan di hadapan saya adalah Kereta Khusus Wanita. Kereta yang didesain berbeda dengan kereta lainnya, dengan warna shock pink dan bunga-bunga serta tulisan Kereta Khusus Wanita dengan font yang elegan. Mengapa harus warna pink? Mengapa tulisannya harus model begitu?
Kemudian saya melangkahkan kaki kanan saya ke dalam kereta dan........ yang terjadi sama seperti sebelumnya. Ya, kaum perempuan bergegas lari dan memangsa "kursi-kursi hak" mereka dengan sangat agresif. Padahal saya lebih dulu di dalam kereta, namun saya kalah agresif sehingga tidak mendapatkan kursi.
Kemudian saya mendapat banyak pertanyaan karena kejadian tersebut,
Mengapa hal tersebut terjadi?
Teruntuk semua yang pernah mengalami pasti tau rasanya. Berebutan tanpa ada rasa mengalah. Tidak mengenal umur, setiap pribadi punya antusias yang luar biasa di sini. Perperangan yang ironis, sehingga banyak yang mengatakan bahwa kereta 1 dan 10 merupakan kereta "angker" dan beberapa dari kaum perempuan justru tidak ingin menggunakan kereta tersebut. Lantas, apa latar belakang dan penyebabnya?
1. Bentuk kegagalan pemerintah dalam menciptakan transportasi umum yang aman dan sejahtera
Saya mewawancarai beberapa teman dan orang yang lebih tua tentang alasan mereka menggunakan kereta khusus wanita, respon terbanyak adalah ingin mendapat jaminan keamanan. Keamanan? Lantas, mengapa harus dengan cara pemisahan gender? Bukannya justru memperparah kesenjangan gender? You said you want equality.
Ternyata ini bukan gerakan pertama di Indonesia dalam "mengkhususkan" kaum perempuan di sarana umum. Langkah pertama ini diambil oleh mantan gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, di mana pada saat busway belum lama diluncurkan muncul beberapa kasus pelecehan seksual terhadap perempuan. Lalu berkembanglah sampai kepada kebijakan untuk KRL.
Dalam kacamata saya, solusi ini justru membuat masalah baru. Bentuk pemisahan pun sebenarnya tidak menyelesaikan masalah dalam keamanan. Bagaimana jika penjahat tersebut merupakan kaum perempuan sendiri? Apa langkah yang diambil adalah pemisahan lagi? Berdasarkan umur? Atau apa lagi ide pemerintah? Yang kedua adalah, jika kita menggunakan konsep pemikiran pemisahan kereta ini, bagaimana nasib perempuan yang diluar kereta khusus ini? Tidak aman? Terdiskriminasi? Akibat pemisahan ini, pada saat satu kaum dalam tempat yang sama, mereka cenderung tidak memperdulikan orang lain dan justru merasa diuntungkan dengan diperlakukan sebagai kaum lemah oleh sistem. Merasa bangga? You name it as "emansipasi"? Pikir lagi.
2. Budaya patriarki di Indonesia yang masih sangat melekat di masyarakat umum
Pihak PT. KAI mengemas kereta 1 dan 10 dengan cat berwarna pink dan membuat desain bunga-bunga dan font yang elegan, lalu menamainya dengan "Kereta Khusus Wanita" dengan tujuan keamanan dan masalah selesai. Namun PT. KAI juga lupa dalam memperhatikan kaum pria. Mereka juga rawan dalam objek kejahatan.
Pengupayaan kesetaraan gender yang merupakan isu sosial yang sangat besar di Indonesia masih rendah. Kesenjangan gender ini sebenarnya menjadi faktor utama dari pelecehan seksual perempuan lebih banyak jumlahnya dibandingkan pada kaum laki-laki. Dalam budaya patriarki yang masih melekat, kaum pria adalah teratas dan terkuat sedangkan kaum perempuan adalah lemah. Perempuan menjadi sangat dependen terhadap laki-laki akibat mengakarnya budaya tersebut. Akibat rasa dependen perempuan karena merasa dan termakan stereotype, perempuan merasa senang dispesialkan, diutamakan, dan didahulukan. Padahal, semuanya memiliki hak yang sama, perlindungan yang sama, karena laki-laki dan perempuan adalha makhluk ciptaan Tuhan. Jika budaya ini terus dipelihara, maka justru akar masalah yang ingin diselesaikan tidak akan bisa dihapus, kaum perempuan tidak akan merasa aman di tempat umum jika tempat tersebut tidak ada "pengkhususan" akibat sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.
Lantas, apakah kereta khusus perempuan diperlukan?Pemisahan berdasarkan gender bukanlah solusi. Peningkatan pengamanan baik dari sektor sarana maupun sektor lainnya harus digalakkan karena hal terpenting adalah bagaimana setiap individu tanpa memperhatikan gender bisa berjalan dengan tenang tanpa khawatir akan ancaman dari siapapun. Dari pihak masyarakat sendiri pun harus berusaha menjaga keamanan, paling tidak dimulai dari diri sendiri dulu.
Silahkan bila anda punya pendapat sendiri, I'd like to hear that!





