Wednesday, 1 February 2017

Kereta Khusus Perempuan, Perlukah?

Libur semesteran ku telah tiba. Walaupun tidak seberapa banyak, namun aku berusaha menikmati setiap harinya. Pertama naik KRL sejak 2017 (karena di Malang tidak ada) and it was as fun as before!

Walaupun saya sudah lama menikmati KRL, saya baru mendapatkan pemikiran ini. Sewaktu saya menunggu kereta tiba, tiba-tiba kereta itu sudah tiba dan di hadapan saya adalah Kereta Khusus Wanita. Kereta yang didesain berbeda dengan kereta lainnya, dengan warna shock pink dan bunga-bunga serta tulisan Kereta Khusus Wanita dengan font yang elegan. Mengapa harus warna pink? Mengapa tulisannya harus model begitu?

Kemudian saya melangkahkan kaki kanan saya ke dalam kereta dan........ yang terjadi sama seperti sebelumnya. Ya, kaum perempuan bergegas lari dan memangsa "kursi-kursi hak" mereka dengan sangat agresif. Padahal saya lebih dulu di dalam kereta, namun saya kalah agresif sehingga tidak mendapatkan kursi.

Kemudian saya mendapat banyak pertanyaan karena kejadian tersebut,

Mengapa hal tersebut terjadi?



Teruntuk semua yang pernah mengalami pasti tau rasanya. Berebutan tanpa ada rasa mengalah. Tidak mengenal umur, setiap pribadi punya antusias yang luar biasa di sini. Perperangan yang ironis, sehingga banyak yang mengatakan bahwa kereta 1 dan 10 merupakan kereta "angker" dan beberapa dari kaum perempuan justru tidak ingin menggunakan kereta tersebut. Lantas, apa latar belakang dan penyebabnya?

1. Bentuk kegagalan pemerintah dalam menciptakan transportasi umum yang aman dan sejahtera
Saya mewawancarai beberapa teman dan orang yang lebih tua tentang alasan mereka menggunakan kereta khusus wanita, respon terbanyak adalah ingin mendapat jaminan keamanan. Keamanan? Lantas, mengapa harus dengan cara pemisahan gender? Bukannya justru memperparah kesenjangan gender? You said you want equality.

Ternyata ini bukan gerakan pertama di Indonesia dalam "mengkhususkan" kaum perempuan di sarana umum. Langkah pertama ini diambil oleh mantan gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, di mana pada saat busway belum lama diluncurkan muncul beberapa kasus pelecehan seksual terhadap perempuan. Lalu berkembanglah sampai kepada kebijakan untuk KRL.

Dalam kacamata saya, solusi ini justru membuat masalah baru. Bentuk pemisahan pun sebenarnya tidak menyelesaikan masalah dalam keamanan. Bagaimana jika penjahat tersebut merupakan kaum perempuan sendiri? Apa langkah yang diambil adalah pemisahan lagi? Berdasarkan umur? Atau apa lagi ide pemerintah? Yang kedua adalah, jika kita menggunakan konsep pemikiran pemisahan kereta ini, bagaimana nasib perempuan yang diluar kereta khusus ini? Tidak aman? Terdiskriminasi? Akibat pemisahan ini, pada saat satu kaum dalam tempat yang sama, mereka cenderung tidak memperdulikan orang lain dan justru merasa diuntungkan dengan diperlakukan sebagai kaum lemah oleh sistem. Merasa bangga? You name it as "emansipasi"? Pikir lagi.

2. Budaya patriarki di Indonesia yang masih sangat melekat di masyarakat umum
Pihak PT. KAI mengemas kereta 1 dan 10 dengan cat berwarna pink dan membuat desain bunga-bunga dan font yang elegan, lalu menamainya dengan "Kereta Khusus Wanita" dengan tujuan keamanan dan masalah selesai. Namun PT. KAI juga lupa dalam memperhatikan kaum pria. Mereka juga rawan dalam objek kejahatan.

Pengupayaan kesetaraan gender yang merupakan isu sosial yang sangat besar di Indonesia masih rendah. Kesenjangan gender ini sebenarnya menjadi faktor utama dari pelecehan seksual perempuan lebih banyak jumlahnya dibandingkan pada kaum laki-laki. Dalam budaya patriarki yang masih melekat, kaum pria adalah teratas dan terkuat sedangkan kaum perempuan adalah lemah. Perempuan menjadi sangat dependen terhadap laki-laki akibat mengakarnya budaya tersebut. Akibat rasa dependen perempuan karena merasa dan termakan stereotype, perempuan merasa senang dispesialkan, diutamakan, dan didahulukan. Padahal, semuanya memiliki hak yang sama, perlindungan yang sama, karena laki-laki dan perempuan adalha makhluk ciptaan Tuhan. Jika budaya ini terus dipelihara, maka justru akar masalah yang ingin diselesaikan tidak akan bisa dihapus, kaum perempuan tidak akan merasa aman di tempat umum jika tempat tersebut tidak ada "pengkhususan" akibat sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.

Lantas, apakah kereta khusus perempuan diperlukan?
Pemisahan berdasarkan gender bukanlah solusi. Peningkatan pengamanan baik dari sektor sarana maupun sektor lainnya harus digalakkan karena hal terpenting adalah bagaimana setiap individu tanpa memperhatikan gender bisa berjalan dengan tenang tanpa khawatir akan ancaman dari siapapun. Dari pihak masyarakat sendiri pun harus berusaha menjaga keamanan, paling tidak dimulai dari diri sendiri dulu.

Silahkan bila anda punya pendapat sendiri, I'd like to hear that!

Tuesday, 31 January 2017

Haruskah Menjadi Perempuan Sesuai (yang katanya) "Kodrat"?


Have you ever heard,

"Udahlah kalo sekolah gak usah tinggi-tinggi. Toh ujung-ujungnya baka ke dapur juga,"
"Ya pantas saja dia diperkosa. Pakaiannya terbuka,"
"Ngapain karier jauh-jauh nanti juga disuruh berhenti kerja sama suami,"
"Kamu ngapain sih masuk teknik mesin, kan kamu perempuan,"
"Kamu nggak usah ambil jurusan yang banyak kerja lapangan, kan kamu perempuan,"
"Jangan karier tinggi-tinggi, nanti gak ada yang mau sama kamu,"
"Tomboy banget, sih. Cewek dikit dong, pake rok gitu,"

dan masih banyak lagi

Kemarin pagi, saya gereja dan mendapat sebuah khotbah yang menurut saya bagus sekali, yaitu seputar paradigma dan persepsi. Lalu, pikiran saya tidak tenang dan terus memikirkan bahwa ternyata banyak sekali tindakan dan pola pikir kita justru terkontrol oleh statement masyarakat yang embel-embelnya agar bisa diterima di masyarakat umum.

Dan saya jadi kepikiran dengan diskusi saya dengan teman-teman kuliah saya sewaktu makan siang yang membuat saya pribadi merasa sedih, sangat sedih. Mereka banyak mengeluarkan statement yang tidak jauh-jauh dari yang saya tulis di atas. Like... Are you guys really sure with your statements? Rasanya saya benar-benar ingin berargumen panjang, namun semuanya akan percuma karena saya pikir hal yang seperti itu sudah mendarah daging dan nanti ujung-ujungnya ribut bukannya membuat pandangan mereka berubah.

Dari mana sih pandangan-pandangan yang biasanya terlontarkan ini muncul?



Saya bukannya ingin membenarkan SEPENUHNYA bahwa saya benar, bukan. Teman-teman semua yang membaca dan mungkin kurang setuju juga silahkan. Tapi saya hanya menyayangkan keinginan berprestasi kaum perempuan pun terhalangi oleh hal-hal yang tidak mendasar.

Edward B. Taylor mengungkapkan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan,  kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.Daerah-daerah umumnya mempunyai budaya yang lebih memspesialkan kaum laki-laki. Di Indonesia biasanya laki-laki bekerja di luar, sedangkan perempuan di dalam mengurus anak. Dalam kondisi ini, terciptalah budaya patriarki yang membuat kaum laki-laki mempunyai kedudukan kelas satu, sedangkan perempuan menduduki kelas dua. Dalam budaya yang sudah berakar ini, perempuan hanya sebagai pelengkap saja.

Untuk menguatkan pendapat saya, saya akan mencoba menjelaskan tentang bagaimana budaya patriarki ini bisa bangkit.

Pada zaman dahulu, laki-laki mencari makanan di luar dengan berburu dan perempuan bertani untuk mengisi waktu senggang. Perempuan dianggap sebagai penemu pertama ilmu cocok tanam dan menjadi pekerja pertama di sektor pertanian.


Seiring zaman, kondisi alam pun mulai berubah dan cara berburu dan mengumpulkan makanan sudah tidak lagi cocok. Lalu laki-laki mengambil alih posisi perempuan dan perempuan hanya menjadi di dalam rumah saja. Kelahiran sistem patriarki tersebut membuat perempuan tergeser dari pekerjaan-pekerjaan domestik dan bekerja sesuai kehendak laki-laki. Menurut Engels dalam Budiman (1981: 23), kemunculan sistem patriarki menjadikan perempuan sebagai makhluk pengabdi saja. Perempuan menjadi budak dari keserakahan laki-laki dan menjadi mesin pembuat anak-anak belaka. Seiring dengan budaya ini terus melekat, banyak suku-suku di Indonesia memiliki budaya patriarki.

Semakin berkembang, muncul banyak statement yang dijadikan sebagai standard yang harus dilakukan perempuan seperti peran tanggung jawab dalam mengurus pekerjaan rumah tangga, lebih asing melihat perempuan dengan pekerjaan luar lapangan dibandingkan dengan dalam ruangan, berbicara dengan lembut dan pelan, dll. Akibat budaya ini lah, statement sosial masyarakat lebih menyukai untuk menyarankan "Pemimpin ya cowok lah", sehingga ada dominan dari satu gender sendiri dibandingkan dengan gender lainnya (walaupun ini memiliki banyak sisi negatif yang bisa berakibat buruk pada gender laki-laki yang akan saya bahas di post selanjutnya).


Yang jadi pertanyaan adalah,
Apa yang harus dilakukan kaum perempuan atas budaya ini?
Budaya ini membuat suatu kaum diuntungkan dan kaum lainnya merasa dirugikan. Perlakuan khusus dan diskriminasi menghambat banyak hal, seperti dalam hak memilih, entah memilih dalam berkarier, berekspresi, dll. Batasan-batasan atau larangan-larangan yang dibuat oleh masyarakat akibat pengaruh budaya ini banyak membuat kaum perempuan menjadi tidak bebas dalam berekspresi, menentukan jalan hidupnya, menoreh prestasi dan karier, dan masih banyak lagi.

Banyak hal juga yang mengokohkan budaya ini, seperti agama, pengaruh budaya ini yang sudah sangat lama seperti persepsi yang sudah melekat di otak kita, himbauan masyarakat, dukungan dari trend yang merajarela, dll. Hal ini tentu tidak bisa semerta-merta disalahkan, karena semua ini sudah melekat sejak lama dan susah untuk dihilangkan.

Beruntungnya, masyarakat dari zaman ke zaman mulai memperhatikan kesenjangan gender dan berusaha untuk menyetarakan. Paham-paham feminisme dan human rights menjadi yang paling dominan untuk dipakai.

Lantas, apa yang harus dilakukan?
1. Jadilah dirimu sendiri
Jangan takut jika kamu kurang menyukai hal-hal yang lebih feminin seperti boneka, warna merah muda, atau semacamnya. Jika gayamu lebih maskulin, ekspresikan! Jangan biarkan dirimu dikontrol oleh pemahaman masyarakat. Sudah banyak kaum perempuan  yang melawan pemahaman itu seperti Kartini, Helene Cixous, Gadis Arivia, Cut Nyak Meutia, dll. Jika mereka tidak berusaha melawan pemahaman tersebut, maka hak-hak yang selama ini mulai bisa didapatkan kaum perempuan tidak akan bisa dirasakan sekarang. Walaupun masih banyak hak-hak yang terhalangi, jika kamu mau mengubahnya, paling tidak dari diri sendiri dulu.

2. Kamu yang tentukan, kamu yang tahu resikonya
Setiap pilihan pasti ada resikonya. Pilihlah jalan sesuai dengan pikiran dan pertimbanganmu. Jangan takut atas persepsi orang karena itu hanya budaya. Jangan membuat dirimu sendiri menjadi terbatas oleh batasan-batasan patriarki. Semua harus setara, semua harus mendapatkan haknya sebagai manusia, bukan dibatasi oleh gender karena setiap insan manusia adalah berbeda, dan berbeda itu indah.

3. Buat yang lain menjadi termotivasi
Salah satu indikator manusia berguna adalah menyebarkan efek positif bagi sekitarnya. Jika masih banyak yang terhalang mimpinya oleh tembok batasan budaya ini, motivasikanlah. Dengan cara ini, perempuan menjadi lebih paham atas hak dan akan lebih banyak lagi perempuan yang sukses dan bangga atas dirinya sendiri.

Setiap manusia adalah berbeda, dan berbeda itu indah. Tidak semua perempuan adalah seperti pada persepsi masyarakat, dan tidak semua perempuan mau melakukannya. Tidak ada kata "kodrat", karena itu hanya pemikiran dan budaya sejak dahulu yang harus diruntuhkan. Setiap manusia harus mendapatkan hak yang sama tanpa melihat gender. Tidak ada yang menghalangi.

Terima kasih!

Thursday, 6 October 2016

Mahasiswa Baru dan Kisahnya

Hai! Gak kerasa banget sekarang gue sudah memasuki bulan ke-3 proses perkuliahan. Sebenernya baru berjalan sebulan sih (dari tanggal 5 September). Cuma ospeknya mulai tanggal 30 Agustus 2016 dan gue sudah menginjakkan kaki di Malang tanggal 20 Agustus. Gue sebagai mahasiswa baru Universitas Brawijaya di Fakultas Teknik dengan program studi Perencanaan Wilayah dan Kota merasa hingga detik ini telah mengukir cerita-cerita menarik! Karena menarik inilah makanya gue kembali buka blog dan mencoba menceritakan beberapa yang menarik untuk dibagikan.

Gimana sih rasanya kuliah di Fakultas Teknik?
Banyak yang nanya ini ke gue, apalagi soal ospeknya (gak perlu gue ceritakan ya sudah banyak di blog sebelah tentang angkernya ospek Fakultas Teknik). Tapi menurut pandangan gue semua fakultas itu sama aja kok guys. Yang penting kalian bisa bermanfaat bagi orang tua, sekitar, masyarakat, dan bangsa. Oh iya, jangan lupa sama Tuhan juga. Cuma ya di Fakultas Teknik itu yang tugasnya paling banyak dan jahat tuh ya tugas jurusan gue. Kita bakal jarang banget di kampus karena sibuk survei sana-sini. Tapi justru di moment surveinya mahasiswa planologi justru nyari sela-sela waktu untuk bisa bertamasya. Bahkan udah keliatan banget nih bibit-bibit travelling di angkatan gue. Di kelas gue pun dibuat seksi khusus untuk rekreasi. Hampir tiap minggu kita rekreasi. Dan terakhir kita habis dari Pantai Batu Bengkung!

Di Teknik itu bakal banyak asistensi, tugas sampe deadline kata orang-orang (tapi sebenernya gak sampe gitu kok kalo kita bisa ngatur waktu dengan baik dan mengerjakannya dengan efektif), botak gundul (khusus putra), dan memang terkenal dengan solidnya. Khususnya di Planologi emang dituntut untuk kompak soalnya kita juga pasti bekerja team dan teamnya ganti terus dan kita harus siap mau sekelompok sama siapa aja tanpa pilih-pilih teman. Kita ke mana-mana bareng, ngapain segala macem juga bareng, dihukum juga bareng-bareng hehehe. Banyak anak jurusan di luar fakultas teknik suka ngiri loh sama kekompakan kami. Ada juga jokes dari beberapa dosen dan dekan mengatakan "Di UB tuh fakultas cuma 2, Fakultas Teknik dan Fakultas Lain-Lain".  So yeah, kadang Krida ada manfaatnya dikit.

Apa kabar teman-teman jurusan gue?
Gokil! Jalan-jalan terus (maklum, anak Planologi emang stereotypenya hobi travelling). Dan destinasi selanjutnya denger2 antara mau ke Pantai Tiga Warna atau ke Bromo (pasti gue post). Sebenernya waktu hari Minggu itu kita mau ke Pantai Sendiki. Cuma karena mobil salah satu rombongan kena musibah dan kondisi pada saat itu lagi mendung banget, alternatifnya kita ke Pantai Batu Bengkung yang menurut gue juga bagus!

Ini dia sedikit penampakan dari Pantai Batu Bengkung. Maaf banget kalo dikit karena gue emang pengen menikmati suasana ini yang jarang-jarang gue dapatkan.





Credits: Cyrillus Aghista


Dari moment ke pantai ini yang banyak banget halangannya justru membuat kami tambah solid dan saling memikirkan satu sama lain. Gue pribadi dapet banyak banget dari sini! Dan kami semua menjadi lebih dekat, termasuk yang lagi ngegebet orang jadi makin dekat di sini (bukan gue). Banyak yang cinlok di angkatan gue. Yaa semoga yang lagi proses beneran jadi ya! 

Oh iya, ini sebagian dari angkatan Planologi 2016 yang ikut. Here!
Credits: Imerlin



Gimana sih mata kuliah anak teknik?
Duh, jangan tanya gue deh. Jurusan gue itu teknik rasa FISIP. Walaupun kami judulnya teknik, tapi kami adalah penghubung antara keteknikan dengan sosial masyarakat. Di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, kami gak kena materi Kalkulus (masuk sih, cuma di mata kuliah Matematika dan itu kalkulus standar SMA tapi lebih tinggi dikit). Cuma kalo di jurusan lain pada dapet mata kuliah Fisika Dasar, Kimia Dasar, Kalkulus I, Kalkulus II, bahkan Kalkulus III. Tapi kami dimasukkan ke Fakultas Teknik karena kami merancang sistem dan juga pastinya dengan sistem yang terencana dan terorganisir which means it's one of the thing that make us be included as engineering. Untuk yang gak suka Fisika, Kimia mungkin bisa ke jurusan ini. Untuk yang hobi travelling dan seputar perkotaan juga bisa. Yey.

Kalo di jurusan lain yang masih dalam Fakultas Teknik tuh mereka bener-bener belajar dasar-dasarnya dulu supaya basisnya kuat dan konsepnya mudah dipahami setelah-setelahnya.

Perasaan gue menjalani di sini?
Gak bisa jawab dan belum mau jawab dulu. Karena kita semua masih survive di sini dimulai dari mata kuliah hingga permintaan dari senior yang aneh-aneh.


So yeah, yang mau jadi bagian dari kami, ditunggu! Gak bakal galak-galak kok gue hehehe.
 

Monday, 13 June 2016

Rencana Manusia dan Tuhan

Yes! Finally bisa nulis lagi di blog ini. Walaupun saya gak ada bakat nulis sama sekali, but I feel that writing really can heal your soul, your emotion. Menulis itu benar-benar bisa menyalurkan emosi dan aspirasi, sehingga kita menjadi pribadi yang lebih tanggap, peka, peduli, dan kritis.

Kali ini saya akan membahas tentang rencana. Pasti udah pada tau kan apa itu rencana?
Tapi yang ingin saya bahas adalah
Mengapa sering kali rencana kita tidak tercapai? Apa penyebab rencana tersebut tidak tercapai?

Oke! Saya bahas dulu yang point pertama.
Rencana kita ada yang baik, ada yang buruk. Tapi biasanya sih yang baik-baik, hehe.
Salah satu penyebabnya adalah karena kurang matangnya persiapan kita dalam merangkai rencana tersebut. Kali ini saya akan mengambil contoh sebagai murid SMA yang baru saja lulus dan segera melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu bangku kuliah.
Misalnya planning si A adalah masuk ke PTN yang diinginkan, ambilah contohnya PTN X. Targetnya yang diinginkan adalah tinggi, tapi anak tsb kurang bisa merangkainya (seperti belajar dengan rajin, belajar dengan penuh strategi, menjaga kesehatan) sehingga dia tidak dapat menjadi mahasiswa PTN X untuk tahun ini. Dan faktor kegagalan ini bisa disebut dengan faktor pribadi, di mana kita bisa melihat kasat mata dan kesalahan tsb mutlak terdapat pada anak tsb.
Faktor kedua adalah tidak selarasnya rencana kita dengan rencana Tuhan. Hmm, maksudnya? Yap, kita pasti sudah tahu dong bahwa Tuhan itu Maha Kuasa dan Maha Tahu, dan Tuhan tau yang terbaik untuk kita.
Contohnya lagi adalah si B yang ingin masuk ke PTN Y. Berbagai strategi dan rancangannya sudah ia lakukan dan disertai dengan kerja keras dan semangat belajar yang tinggi juga. Berbagai usaha seperti try out pun sudah dinyatakan bahwa ia akan tembus menuju PTN Y. Begitu pengumuman...... JENG JENG. Tidak lulus? Hm? Mengapa? Justru yang paling menyakitkan menurut saya adalah kita sudah berusaha semampu dan melakukan yang terbaik, tetapi justru yang terjadi adalah lawan dari rencana dan harapan kita. Mengapa?
Rencana kita belum tentu yang terbaik untuk kita karena keterbatasan kita merencanakan sesuatu hanya berdasarkan kemampuan otak kita yang bisa kita capai. Di luar itu? Kuasa Tuhanlah yang bekerja. Yang jadi pertanyaan kita adalah,
Bagaimana cara mengetahui rencana Tuhan dan menyelaraskan rencana kita dengan rencana-Nya?
Ibarat kamu lagi ngambek sama pacar, terus kamu diem aja, dan pacar kamu juga diem. Gak ada saling komunikasi. Kamu pengen si pacar melakukan apa yang kamu pengen, tapi kamu gak bisa sampein karena pacar kamu juga seolah-olah gak pengen tau isi kepala kamu. Dan benar juga dugaannya, si pacar langsung aja main jalan sendiri. Kamu pengennya disamper, eh dianya malah pergi ninggalin kamu dengan alasan dia pikir kamu butuh waktu sendiri. Hasilnya? Tambah berantem deh.
Sama juga hubungan kita dengan Tuhan. Tapi bedanya, Tuhan tau semua isi hati dan pikiran kamu, tapi kamu tau nggak rencana-rencana yang Tuhan siapkan untuk kamu? Tuhan udah peka sama semua kebutuhan dan isi hati kamu, tapi kamunya peka nggak? Yuk coba mendekatkan diri kepada Tuhan sesuai cara agamanya masing-masing. Believe me, semakin dekat dengan Tuhan, hati kita akan semakin peka mendengar bisikan dan segala sesuatu yang disampaikan Tuhan kepada kita. Then you called it as firasat, mimpi, dsb. Dan satu lagi, peran yang sangat berpegang dalam konteks ini adalah IKHLAS. Susah banget ya emang ikhlas itu. Tapi percaya deh, kalo udah bisa ikhlas, pasti bahagia kok dalam menjalani hari dan selalu menerima segala keadaan dengan pikiran positif. Kalau rencanamu tidak terealisasikan, Tuhan punya solusi yang lebih baik. Contohnya adalah ada anak yang gagal masuk ITB tapi nyatanya dia diterima di Universitas ternama di Amerika. (Source: Info 3 SMA). See? Tuhan tau yang terbaik, dan yang terpenting adalah kita mau ikhlas menerima bahwa itu bukan takdirnya dan siap bangkit melangkah menuju jalan yang berbeda, ke jalan yang direstui dan disiapkan Tuhan. Banyak berdoa, banyak ikhlas, dan mau menerima masukan dari manapun merupakan kuncinya. Ingat, jangan patah semangat!

Btw saya nulis ini sambil nyemangatin diri sendiri juga kok. So, bukan berarti saya nasehatin ya hehehe.

Anyway, makasih udah luangin waktunya untuk baca dan semoga rencana yang terbaik selalu menghampiri kita. Ingat, jangan pernah ragu dalam mencapai rencana terbaik itu. Kalau kamu yakin dan itu jalannya, Tuhan dan semesta pasti turut membantu. God bless!
 
 
Personal Mind Expression © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.