Tuesday, 31 January 2017

Haruskah Menjadi Perempuan Sesuai (yang katanya) "Kodrat"?


Have you ever heard,

"Udahlah kalo sekolah gak usah tinggi-tinggi. Toh ujung-ujungnya baka ke dapur juga,"
"Ya pantas saja dia diperkosa. Pakaiannya terbuka,"
"Ngapain karier jauh-jauh nanti juga disuruh berhenti kerja sama suami,"
"Kamu ngapain sih masuk teknik mesin, kan kamu perempuan,"
"Kamu nggak usah ambil jurusan yang banyak kerja lapangan, kan kamu perempuan,"
"Jangan karier tinggi-tinggi, nanti gak ada yang mau sama kamu,"
"Tomboy banget, sih. Cewek dikit dong, pake rok gitu,"

dan masih banyak lagi

Kemarin pagi, saya gereja dan mendapat sebuah khotbah yang menurut saya bagus sekali, yaitu seputar paradigma dan persepsi. Lalu, pikiran saya tidak tenang dan terus memikirkan bahwa ternyata banyak sekali tindakan dan pola pikir kita justru terkontrol oleh statement masyarakat yang embel-embelnya agar bisa diterima di masyarakat umum.

Dan saya jadi kepikiran dengan diskusi saya dengan teman-teman kuliah saya sewaktu makan siang yang membuat saya pribadi merasa sedih, sangat sedih. Mereka banyak mengeluarkan statement yang tidak jauh-jauh dari yang saya tulis di atas. Like... Are you guys really sure with your statements? Rasanya saya benar-benar ingin berargumen panjang, namun semuanya akan percuma karena saya pikir hal yang seperti itu sudah mendarah daging dan nanti ujung-ujungnya ribut bukannya membuat pandangan mereka berubah.

Dari mana sih pandangan-pandangan yang biasanya terlontarkan ini muncul?



Saya bukannya ingin membenarkan SEPENUHNYA bahwa saya benar, bukan. Teman-teman semua yang membaca dan mungkin kurang setuju juga silahkan. Tapi saya hanya menyayangkan keinginan berprestasi kaum perempuan pun terhalangi oleh hal-hal yang tidak mendasar.

Edward B. Taylor mengungkapkan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan,  kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.Daerah-daerah umumnya mempunyai budaya yang lebih memspesialkan kaum laki-laki. Di Indonesia biasanya laki-laki bekerja di luar, sedangkan perempuan di dalam mengurus anak. Dalam kondisi ini, terciptalah budaya patriarki yang membuat kaum laki-laki mempunyai kedudukan kelas satu, sedangkan perempuan menduduki kelas dua. Dalam budaya yang sudah berakar ini, perempuan hanya sebagai pelengkap saja.

Untuk menguatkan pendapat saya, saya akan mencoba menjelaskan tentang bagaimana budaya patriarki ini bisa bangkit.

Pada zaman dahulu, laki-laki mencari makanan di luar dengan berburu dan perempuan bertani untuk mengisi waktu senggang. Perempuan dianggap sebagai penemu pertama ilmu cocok tanam dan menjadi pekerja pertama di sektor pertanian.


Seiring zaman, kondisi alam pun mulai berubah dan cara berburu dan mengumpulkan makanan sudah tidak lagi cocok. Lalu laki-laki mengambil alih posisi perempuan dan perempuan hanya menjadi di dalam rumah saja. Kelahiran sistem patriarki tersebut membuat perempuan tergeser dari pekerjaan-pekerjaan domestik dan bekerja sesuai kehendak laki-laki. Menurut Engels dalam Budiman (1981: 23), kemunculan sistem patriarki menjadikan perempuan sebagai makhluk pengabdi saja. Perempuan menjadi budak dari keserakahan laki-laki dan menjadi mesin pembuat anak-anak belaka. Seiring dengan budaya ini terus melekat, banyak suku-suku di Indonesia memiliki budaya patriarki.

Semakin berkembang, muncul banyak statement yang dijadikan sebagai standard yang harus dilakukan perempuan seperti peran tanggung jawab dalam mengurus pekerjaan rumah tangga, lebih asing melihat perempuan dengan pekerjaan luar lapangan dibandingkan dengan dalam ruangan, berbicara dengan lembut dan pelan, dll. Akibat budaya ini lah, statement sosial masyarakat lebih menyukai untuk menyarankan "Pemimpin ya cowok lah", sehingga ada dominan dari satu gender sendiri dibandingkan dengan gender lainnya (walaupun ini memiliki banyak sisi negatif yang bisa berakibat buruk pada gender laki-laki yang akan saya bahas di post selanjutnya).


Yang jadi pertanyaan adalah,
Apa yang harus dilakukan kaum perempuan atas budaya ini?
Budaya ini membuat suatu kaum diuntungkan dan kaum lainnya merasa dirugikan. Perlakuan khusus dan diskriminasi menghambat banyak hal, seperti dalam hak memilih, entah memilih dalam berkarier, berekspresi, dll. Batasan-batasan atau larangan-larangan yang dibuat oleh masyarakat akibat pengaruh budaya ini banyak membuat kaum perempuan menjadi tidak bebas dalam berekspresi, menentukan jalan hidupnya, menoreh prestasi dan karier, dan masih banyak lagi.

Banyak hal juga yang mengokohkan budaya ini, seperti agama, pengaruh budaya ini yang sudah sangat lama seperti persepsi yang sudah melekat di otak kita, himbauan masyarakat, dukungan dari trend yang merajarela, dll. Hal ini tentu tidak bisa semerta-merta disalahkan, karena semua ini sudah melekat sejak lama dan susah untuk dihilangkan.

Beruntungnya, masyarakat dari zaman ke zaman mulai memperhatikan kesenjangan gender dan berusaha untuk menyetarakan. Paham-paham feminisme dan human rights menjadi yang paling dominan untuk dipakai.

Lantas, apa yang harus dilakukan?
1. Jadilah dirimu sendiri
Jangan takut jika kamu kurang menyukai hal-hal yang lebih feminin seperti boneka, warna merah muda, atau semacamnya. Jika gayamu lebih maskulin, ekspresikan! Jangan biarkan dirimu dikontrol oleh pemahaman masyarakat. Sudah banyak kaum perempuan  yang melawan pemahaman itu seperti Kartini, Helene Cixous, Gadis Arivia, Cut Nyak Meutia, dll. Jika mereka tidak berusaha melawan pemahaman tersebut, maka hak-hak yang selama ini mulai bisa didapatkan kaum perempuan tidak akan bisa dirasakan sekarang. Walaupun masih banyak hak-hak yang terhalangi, jika kamu mau mengubahnya, paling tidak dari diri sendiri dulu.

2. Kamu yang tentukan, kamu yang tahu resikonya
Setiap pilihan pasti ada resikonya. Pilihlah jalan sesuai dengan pikiran dan pertimbanganmu. Jangan takut atas persepsi orang karena itu hanya budaya. Jangan membuat dirimu sendiri menjadi terbatas oleh batasan-batasan patriarki. Semua harus setara, semua harus mendapatkan haknya sebagai manusia, bukan dibatasi oleh gender karena setiap insan manusia adalah berbeda, dan berbeda itu indah.

3. Buat yang lain menjadi termotivasi
Salah satu indikator manusia berguna adalah menyebarkan efek positif bagi sekitarnya. Jika masih banyak yang terhalang mimpinya oleh tembok batasan budaya ini, motivasikanlah. Dengan cara ini, perempuan menjadi lebih paham atas hak dan akan lebih banyak lagi perempuan yang sukses dan bangga atas dirinya sendiri.

Setiap manusia adalah berbeda, dan berbeda itu indah. Tidak semua perempuan adalah seperti pada persepsi masyarakat, dan tidak semua perempuan mau melakukannya. Tidak ada kata "kodrat", karena itu hanya pemikiran dan budaya sejak dahulu yang harus diruntuhkan. Setiap manusia harus mendapatkan hak yang sama tanpa melihat gender. Tidak ada yang menghalangi.

Terima kasih!

No comments:

Post a Comment

< > Home
Personal Mind Expression © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.